Kamis, 23 Mei 2013

Surat Untuk Bapak S,zzzzt… ( by Aprian kurniawan )



Dalam senyap malam, aku berdiri menghadap jendela yang terbuka, menatap rembulan yang kala itu terbayang wajah seorang bocah yang aku kenal diperempatan jalan siang tadi.
Siang itu pusat kota ramai dan bising, tak ada yang aneh dipandanganku. Kecuali, seorang bocah botak, yang tingginya tak jauh dari dadaku. Sedang asik meradukan pena pada secarik kertas kecil. Di bawah pohon kering di pinggir jalan.
Tetap konsentrasi walau bising kenalpot kendaraan bak letupan-letupan senjata yang membombardir gendang telinganya, belum lagi panas yang menyapanya siang itu.
Selangkah demi selangkah, aku dekati anak itu.
“Kamu sedang menulis apa?” Tanya aku dengan simpul manis di bibir.
Dia tersontak kaget. Tangannya sepontan memeluk erat secarik kertas yang dia tulis tadi, matanya menyorot tajam kedalam mataku.
            “jangan takut, kakak hanya ingin mengapresiasikan apa yang kamu tulis. Boleh kakak lihat?”.
            Dengan kepala ditundukan, dia perlahan menyerahkan kertas itu.

***

Dear surat,
Untuk Bapak S,zzzt

Aku melihat bapak berjas di tv. Keren, tampan lagi. Andai aku bisa berbicara dengan bapak tentang semua cita-citaku.  Tapi aku rasa tidak mungkin, karena bapak akan kaget ketika berbicara dengan aku. Bukan karena aku dapat berbicara tiga bahasa, bukan pula karena aku pandai bersastra. Melainkan karena tak ada kata yang keluar dari mulutku, selain “nge, ange, nge’e".
Mungkin aku menulis surat ini juga akan sia-sia, sebab surat ini tak akan mugkin sampai kebapak. Tapi, aku juga megerti kok, karena banyak urusan yang bapak urusi, belum lagi protes warga yang tak ada henti-hentinya. Ntah itu salah pemerintah atau salah masyarakat sekitar.
Kalau aku bisa curhat dengan bapak, tentu aku akan bercerita banyak, tentang cita-citaku. Pertama aku ingin menjadi mentri HAM, agar HAM benar-benar diperhatikan. Bukan hanya yang geger di media saja. Paling tidak pemerintah menyediakan wadah curhat untuk remaja. Karena, bagaimanapun remaja baru berkembang seperti aku tidak bisa perasaannya terbebani sedikit saja.
Kedua, aku ingin menjadi duta besar. Agar tak ada yang bernasip seperti ibuku. Pamit dengan sehat bugar, namun pulang dengan terbungkus peti mati. Kepulangannya pun didahului kontropersi, mungkin pemerintah disana berat untuk menginfakkan peti matinya.
Ketiga, aku ingin menjadi hakim. Agar tak ada yang bernasip seperti ayahku. Bermaksud agar ada lauk makan, malah kelaparan di jeruji besi selama lima tahun, karena maling ayam Kang Junet.
Tapi.. aku tidak mau menjadi pejabat. Aku tak mau urat malu aku putus. Aku lebih senang begini, meski dengan segala keterbatasan. Setidnya aku tidak mau menerima pemberian orang, apalagi sampai memakan uang haram.
Setumpuk Koran ini cukup untuk makan aku. Dan kesendirianku cukup untuk menjadi pelajaran.

***
Setelah membaca surat itupun aku langsung terduduk lemas, disertai jatuhan-jatuhan bebatuan dari bukit kekaguman. Anak itu yang tadinya takut, malah balik menatapku heran. Meski anak itu umurnya dibawahku, namun pemikirannya jauh diatasku.
          Aku hanya duduk terpaku disampingnya, seolah kertas itu membuat keram seribu persendian dan dua ribu otot-ototku. Aku tak bisa membayangkan kalau aku berada ditempat anak itu bertahta. Dia ramaikan ruang hening kalbunya, suara canda tawanya memecah ruah seolah tak ada masalah.
          “kamu disini tinggal dimana dek?” aku bertanya dengan seribu sangkahwana yang menggelayoti pelupuk mataku.
          Kemudian dia menarik aku ketempat yang aku tak bisa menyebut tempat itu rumah. Yak, setumpukan kardus di pinggir jalan. Melihat semua itu aku sontan memeluknya. Begitu lapang hatinya untuk menenggelamkan semua masalah dan merubahnya menjadi air tenang.
          Keesokan harinya aku kembali kepusat kota untuk menemuinya. Namun, aku tidak melihatnya di bawah pohon kering itu. Tiba-tiba ada yang menoel punggungguku.
          “Eh kamu dari mana saja?”
          Dia hanya tersenyum, sambil mengangkat setumpuk koran sisa, yang tak habis terjual.
          “Kamu sudah makan?”
          Dia menggelengkan kepala.
          “Pasti kamu lapar, makan yuk!!”
          Wajahnya dilipat, tangannya menguntaikan kantong kiri yang tak ada isi.
          “Kakak yang bayar kok, ydh ayo!!” diapun tak bisa mengelakan ajakan aku lagi.
          Rasanya, aku berjalan dengan dia, seperti bersama orang yang lebih dewasa dariku. Karena setiap lampu hijau dia menggandeng tanganku dan kemudian dia berlari dengan simpul manis. Tapi yang aku herankan kenapa dia selalu memegang dada sebelah kirinya.
            Keesokan harinya aku kembali kepusat kota. Lagi-lagi aku tidak melihat dia di bawah pohon itu, tidak pula aku melihat dirinya menawarkan Koran pada setiap kaca-kaca mobil. “Lantas kemana dia?” hati aku bertanya-tanya. Aku teringat akan setumpukan kardus tempat dia tinggal, kemudian aku bergegas kesana. “Mungkin, dia sedang beristirahat” sahut hatiku tenang.
Sesampainya disana aku langsung masuk rumah yg terbuat dari kardus-kardus yg ditumpukan itu. Brak!! Kepalaku dikagetkan oleh tubuhnya yg terbujur kaku dengan hanya beralaskan kardus bekas.
Tanpa komando, aku langsung mengendongnya keluar. Semua mata disekitar kejadian itu menatapku seperti tontonan wayang dengan lakon nyata, tak ada seorangpun yang menolongku.
            “TAKSI.. TAKSI..” Aku meneriakan suara lantang kearah mobil kuning yang bertengger disebrang jalan, dan ditanganku terbaring tubuhnya.
            “Rumah sakit terdekat pak, cepat ya!”
            Meski taksi melaju kencang menuju rumah sakit, wajahku tetap menggambarkan kepanikan, apalagi ketika tubuhnya semakin bergetar. Aku hanya bisa berdoa agar dia selamat.
            Sesampainya dirumah sakit, aku langsung menggendongnya ke ruang UGD. Namun, ketika melangkah, kaki ini terasa amat kecil dan semakin kecil. Belum lagi dipenglihatanku, pintu ruang UGD semakin menghimpit. Perlu pengorbanan karena rasa cemas mulai meracuniku dan mengaburkan pandanganku. Sampai akhirnya aku sampai keruang UGD.
            “maaf mas tunggu diluar” seorang perawat memberi intruksi padaku.
            Aku duduk di kursi tunggu, dengan rasa cemas menyerbak diantara ingatan canda tawanya, sehigga menggulirkan kristal-kristal bening dari pori-pori kulitku.
            Dua puluh menit kemudian dokter keluar.
            “Bagaimana keadaannya dok?”
            “Anda bapaknya? Kenapa anda baru membawanya sekarang?”
“Memangnya apa yang terjadi dok?”
“Terjadi kebocoran pada paru-parunya, kebocorannya sudah sangat besar dan tidak bisa di oprasi lagi”
Mendengar itu aku langsung masuk ruangan dengan langkah tertatih. “Hay.. bagaimana keadaannya?” aku menyapanya dengan menyodorkan kertas dan pena.
Kemudian tangannya mulai mengayunkan pena “sudah baikan kok kak, aku bisa pulang sekarang? Uang hasil aku dagang tak akan cukup bayar rumah sakit ini! Sudah banyak aku menerima pemberian dari kakak, jadi aku tidak mau lagi.”
Kepalaku menggeleng “kamu istirahat dulu yang cukup, soal biaya jangan dipikirkan! Kakak janji ini pemberian terakhir dari kakak!”
Saat dihadapannya aku harus menyimpan air mataku dan menggantikannya dengan senyum manis, aku tak mau dia tahu tentang keadaannya. Biarlah canda tawanya tetap menyeruah dimana-mana, menari bersama angin dan menjadi guru untuk sebuah kehidupan. Walau suaranya tak dapat menyapa pepohonan, biarlah aksara-aksara yang keluar dari tangannya tetap menjadi sebuah sejarah yang tak ternilai.
Ada yang kamu inginkan sekarang?”
“Aku hanya ingin surat ini sampai ke Bapak Presiden”
Aku segera ke ruang perawat untuk meminta izin pulang. Cek cok pun terjadi, pihak rumah sakit tak mau memberikan izin dengan alasan kondisi tubuhnya yang masih lemah.
“Tapi sus, dokter menyatakan dirinya sudah telat, beri dia kesempatan untuk mewujudkan keinginannya”
Suster sejenak membungkam
“Ku mohon”
Suster mengambil pena dan menuliskan sesuatu tanpa intruksi awal.
“Minta tanda tangan ke dokter”
Aku tak mampu lagi menahan ribuan senang yang hanyut dalam perjuangan.
Seusai meminta tanda tangan dokter, aku segera mengurus administrasi dan mengendongnya dengan rasa yang tak jelas masuk ke suka atau duka. Khayalan mulai mengembang, berharap ada jamuan makan dari pihak istana. Hmmm… ya paling tidak sambutan tangan sudah cukup.
Langkah kaki di lanjutkan jemputan taksi di teras rumah sakit.
”Pak istana mesdeka” tunggangan kami segera berlari menuju lokasi.
Sesampainya di istana merdeka kami di sambut lampu jingga kemerahan yang menyorot dari balik bukit di ufuk barat, tambah bewarna merah pekat saat ketegangan terjadi di gerbang istana.
“Baik kami akan menunggu di depan”
Hari mulai menghitam, jelmaan dingin mulai merasuk dan menggetarkan tubuh anak itu.
“Ange nge nge”
“Iya kakak di sini” tangan ku menyodorkan kertas dan pena.
“Kak, sepertinya surat ini tak akan sampai ke tangan Bapak Presiden”
“Bosok kita bakal bertemu Bapak Presiden kok, kamu yang kuat ya”
Kepalanya mengangguk, dengan usaha sunyum seolah menutupi tubuhnya yang mulai panas. Sementara kedua tangan ku merangkulnya dan mengelus-elus kepalanya sampai angin menina bobokan kami.
“Tin, tin” Kelakson mobil mengawali sapaan pagi. Aku segera mengendong anak itu dan berdiri di depan gerbang.
Bapak berjas tmpan keluar dari tunggangan yang mengkilap dari lembayung pagi, menghampiri kami.
“Maaf pak, saya hanya ingin memberikan ini” setelah memberikan kertas itu, lngkah tertatih memutar arah.
“Tunggu, yang anda gendong tampak tak sadarkan diri, ada apa dengan dia?”
Pak Presiden menganjurkan membawanya masuk ke istana, guna memeriksa kondisi fisik anak itu. Tanpa penolakan aku langsung berlari kedalam dan membaringkan tubuhnya yang tidak menggambarkan pergerakan.
 Malam ini rembulan amat terang. Meski pertemuan singkat awalan kita, meski sampai kau menghembuskan nafas terakhirmu kau belum sempat mengucapkan nama. Tapi.. sungguh semangatmu terukir di disetiap bintang. Dan wajahmu terukir di rembulan.
Aku tutup jendela ini dan aku putuskan untuk tidur, karena malam semakin menghitam. Namun, meskipun tertidur, pelajaran darimu tak akan pernah tertidur, untuk selalu memacuku menjalani hari esok dan kemudian hari.









 i












Tidak ada komentar:

Posting Komentar